Menerima kekalahan

Beberapa bulan terakhir ini hampir semua manusia di dunia mengalami masalahnya sendiri-sendiri terkait pandemi yang sedang terjadi. Virus yang wujudnya tidak kelihatan mampu merombak tatanan kebiasaan hidup normal manusia. Masalah yang dihadapi dari yang kecil sampai yang terlampau besar hingga merembet ke aspek kehidupan lainnya. Hampir semua orang mengalami masalahnya sendiri. Mungkin ada segelintir manusia yang tidak merasakannya tapi hampir semua manusia punya problematika sendiri dalam menghadapi pandemi yang terjadi.

Belajar menerima kenyataan. Itu yang banyak dari kita lakukan. Terkadang terkesan pasrah tetapi semua manusia sedang berusaha dengan caranya masing-masing menjalani fase kehidupan new normal yang tidak akan seratus persen normal seperti sedia kala.

Ada yang sibuk dengan mengelola perekonomian, ada yang sibuk mangatur pikiran dan perasaan hingga terhindar dari depresi, bahkan ada yang berjuang melawan maut saat virus yang tak jelas bentuknya menghinggapi tubuhnya. Semua menjalani perjuangan dengan cara masing-masing.

Tidak tepat rasanya mengatakan cara A lebih baik dari cara B, atau cara C menjalani hidup kurang pantas seperti yang dilakukan D. Semua memiliki masalah sendiri dan cara menghadapinya sudah pasti akan berbeda pula.

Anggap saja saat ini sedang kalah. Anggap saja seperti itu.

Belajar menerima kekalahan rasanya akan lebih menguatkan kita daripada berpasrah diri.

Saat mampu menerima kita akan terasa lebih ikhlas dan akan menemukan cara yang lebih baik dalam menghadapi sebuah kekalahan. Cara yang akan membuat kita bangkit kembali. Cara yang akan mengingatkan kita akan kesalahan, kekurangan, kelamahan kita untuk dapat tumbuh baru menjadi sosok yang lebih kuat.

Saat kita menghadapi kekalahan, artinya kita sedang ditempa untuk menjadi alat baru yang lebih kuat lagi.

Lapisan-lapisan masalah yang pernah kita alami dan mampu kita terima akan menjadi perekat kemampuan kekuatan baru.

Akui saja saat lelah. Akui saja saat sakit. Akui saja saat kalah.

Saat mampu menerima sadar atau tidak sadar semua itu akan terasa lebih ringan dan kita akan mampu melewatinya dengan cara yabg baru, dengan pola pikir yang baru, dengan inovasi baru, dengan kreativitas baru yang lahir dari dalam diri kita sendiri. Bukan dari gambaran image diri orang lain. Tapi dari diri kita sendiri.

Melihat, meniru, mengikuti gaya orang lain sah-sah saja tetapi gambaran yang muncul dari pantulan cermin saat kita memandang lapisan bening itu adalah diri kita sendiri. Hanya diri kita yang tahu seberapa dalam kita mampu menerima dan seberapa kuat upaya kita untuk mengingat bahwa tidak ada yang abadi. Semua akan berlalu. Apapun itu. Semua akan berlalu pada waktunya.

Published by inyo

interior decorator, and master of ceremony

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: