suatu hari di gili trawangan

23 Aug

pingin rasanya seperti honeymooners di Maldives. menikmati indahnya pantai berpasir putih dengan warna air laut yang bergradasi sesuai perbedaan kedalaman laut, bersih, tak berpolusi. Mahal… sayang duit.

tidak perlu mahal kalau cuma mimpi indehoy seperti itu. siapkan saja 400 ribu rupiah, yah kalau musim liburan naik sedikit menjadi 600 ribu rupiah lah, berangkat menuju Gili Trawangan. dijemput dengan mobil L300 menuju pelabuhan Padang Bay, lanjut dengan boat selama lebih kurang satu setengah jam, sampailah di Gili Trawangan. kedua tapak kaki akan disambut hangatnya pasir putih yang sudah terjemur matahari dengan begitu sempurna. panas membara mengalahkan panas asmara anak manusia yang bersemangat meneliti setiap jengkal pulau kecil ini.

“panas sekali ya”

“iya nih, edan panasnya ya. kita sekarang cari hotel”

“jalan kaki? sepedaan aja kali ya. enak kayaknya nih sepedaan, jalanannya juga lumayan adem kok”

“ok sip. cari sepeda dulu kalau gitu”

setelah menemukan tempat penyewaan sepeda, terpilihlah sepasang sebuah sepeda dengan keranjang cantik di stang sepeda.

“ini enak nih ada boncengannya. kita nyewa satu aja boncengan”

sukses mata pemilik penyewaan sepeda melirik tajam.

“ndak bisa boncengan, satu orang satu sepeda” …. tegas.

ohhh maaf kita kan gak tahu, namanya juga pertama kali kesini.

 

***

 

“enak ya. pas banget deh anginnya”

“iya nih pas banget buat sepedaan”

jalanan kecil yang tidak mulus mulus amat dilalui dengan hati hati, mengingat lalu lalang sekian banyak bule yang berjalan kaki ataupun bersepeda seimbang dengan cidomo yang melaju dengan kuda yang menarik penumpang sesekali membangkang untuk dikendalikan. udara panas siang hari mulai terasa di kulit. dan makin terasa saat jalanan tidak mulus mulus amat benar benar berubah menjadi jalur off road berpasir. ok, inilah dia jalanan Gili Trawangan yang sesungguhnya.keringat bercucuran. banjir.

“sebentar, berenti bentar” mengeluarkan topi, dan cardigan

“yaelahhhh… ”

“heh jangan cerewet panas deh ini”

perjalanan mencari hotel yang sesuai dengan keinginan berlanjut, jalanan yang dilalui seperti gambaran kehidupan. kadang berliku, kadang berat karena roda sepeda tertanam dalam pasir, tapi diantara kesulitan itu jalan mulus dengan pemandangan laut biru dan tiupan angin segarpun bisa dinikmati. dan akhirnya hotel tujuanpun nampak jelas memastikan diri sebagai tempat yang sangat nyaman untuk menikmati liburan ini.

setengah pulau sudah dilewati, tinggal setengah lagi.

welcome drink terasa begitu segar, ditambah handuk dingin yang menyapu wajah berpeluh. dan sekarang tiupan angin pantai benar benar terasa di lobby hotel. satu kata….ngantuk.

“saya yakin dua anak kota yang nyampe jam 3 ntar pasti teler liat jalannya”

rebahan sebentar mengistirahatkan kaki yang capek mengayuh sepeda, lebih tepatnya setengah perjalanan mengayuh pedal dan setengahnya lagi berjalan kaki menarik sepeda yang menancap yakin dalam gundukan pasir.

“jalan lagi yuk, sekalin cari makan siang”

“setengah jam lagi ya, masih panas banget ini”

setengah jam kemudian…..

“payung dimana ya? oh ini dia. yukk jalan”

jeng jeng jeng …. gak peduli dibilang noni noni belanda yang penting gak kepanasan. sunblock yang teroles tebal rasanya belum mampu menahan sinar ultraviolet ini tanpa payung bergambar pegulat sumo jepang.

melewati kerumunan abg abg bule yang bermain volley pantai, sampailah di sebuah resto dengan pemandangan pantai yang ….. duhhhh kalau gak ingat panas mungkin sudah lari ketengah main air laut. indah sekali pantainya. makanan pertama gagal, mungkin karena ikannya sudah kelamaan di freezer atau memang lidah ini kelewat sensitif. yang pasti lidah ini gatal . makanan kedua sukses dengan penampilan dan rasa yang ok lah ya. selanjutmya kembali ke kamar dan beristirahat. itu pilihan terbaik daripada dehidrasi…. alasan.

****

 

“balikin aja ya sepedanya? ribet nih. toh juga jalannya ancur gini. malam mana bisa sepedaan?”

“iya yuk sekalian ke pusat keramaian. pulangnya naik cidomo aja”

setengah bagian pulau kini mendapat giliran untuk dijamah. terjawab sudah rasa keingin tahuan tentang pulau kecil ini. sepeda dikembalikan dan saatnya menikmati suasana sore di sebuah kota pelabuhan. anggaplah begitu, karena keramaian di Gili Trawangan ada disekitar pelabuhan.

homemade ice cream, promo buy one get one cocktail, dan sate di pasar malam menjadi pilihan. seru. perut kenyang dan saatnya kembali ke hotel. dengan cidomo yang sudah ada tarifnya menerobos keramaian malam dijalur pelabuhan, menembus kegelapan malam. bintang begitu terang terlihat di langit gelap. musik RnB pilihan kusir cidomo kencang membahana mampu mengusir rasa takut di kegelapan, hanya degup jantung yang deg degan tersisa karena cidomo beberapa kali oleng di jalan berpasir.

tidur malam sangat nyenyak

****

 

“main di pantai yuk”

“sekalian sarapan”

menu sarapan yang beragam, suasana pagi yang indah. luar biasa. Pagi ini indah sekali.

 

waktunya pulang, boat sudah menunggu, tempat ini meninggalkan kesan tersendiri. ada kesulitan, kerepotan, kesenangan, dan keindahan yang tidak bisa digantikan. memang benar liburan itu harus dinikmati apapun bentuknya. dan satu lagi hal penting , bukan kemana kita liburan tapi dengan siapa kita melewati waktu #eaaaa.

suatu hari di Gili Trawangan.



 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: